Baterai adalah sel elektrokimia (dikenal sebagai sel Galvanis) yang merubah energi kimia menjadi energi listrik. yang terdiri atas anoda dan katoda yang dipisahkan oleh elektrolit. Berdasarkan penggunaanya baterai dibagi menjadi dua, yaitu baterai primer dan baterai sekunder.
Baterai primer adalah baterai yang penggunaan nya hanya sekali pakai. Proses kimia yang terjadi pada baterai primer adalah irreversible (tidak dapat balik). Oleh karena itu, baterai jenis ini tidak dapat diisi ulang.
Contoh baterai primer antara lain:
Baterai sekunder adalah baterai yang penggunaan nya lebih dari satu kali. Berbeda dengan baterai primer, baterai sekunder memiliki proses kimia yang reversible (dapat balik), sehingga baterai jenis ini dapat diisi ulang. Sudah banyak peralatan elektronik yang menggunakan baterai jenis ini, mulai dari smartphone, laptop, bahkan pada motor dan mobil listrik.
Gambar peralatan elektronik
Baterai merupakan salah satu media penyimpan energi listrik. Di era milenial seperti saat ini, kebutuhan akan baterai yang dapat diisi ulang atau biasa disebut rechargeable battery semakin meningkat.
Contoh rechargeable battery antara lain seperti Baterai:
Salah satu rechargeable battery yang menjadi fokus utama di bidang energi terbarukan adalah penggunaan baterai lithium ion. Baterai umumnya terdiri dari sel elektrokimia yang dapat mengubah energi kimia menjadi energi listrik. Dari tiap sel elektrokimia terdapat kutub negatif (anoda) dan juga kutub positif (katoda) yang merupakan komponen terpenting.
Kemampuan mengisi ulang baterai bervariasi, antara 100-500 kali bergantung dengan kemampuan Charge-Discharge nya.
Pada saat Charge, terjadi pengisian baterai ke sumber listrik seperti listrik-listrik yang berasal dari PLN. Pada fase ini terjadi proses oksidasi di katoda dan terjadi proses reduksi di anoda serta terjadi aliran perpindahan elektron dari katoda ke anoda.
Sedangkan pada saat Discharge, terjadi pengosongan baterai ke perangkat (mobile device) seperti laptop, handphone, portable media player dsb. Pada fase discharge, terjadi proses oksidasi di anoda dan proses reduksi di katoda serta terjadi perpindahan elektron dari anoda ke katoda.
Dalam baterai lithium ion. Dari banyak nya alternatif material katoda, lithium iron phosphate (LiFePO4) yang ditemukan oleh Goodenough pada 1997 yang mendapat perhatian khusus, karena LiFePO4 memiliki kelebihan, yaitu:
Diantara berbagai kandidat yang cocok untuk bahan katoda dalam baterai Li-ion, LiFePO4 tipe olivin yang banyak diminati. LiFePO4 memiliki kapasitas spesifik teoretis yang relatif besar yaitu 170mAhg-1 berdasarkan reaksi dua fase dengan voltase sekitar 3,4V versus Li / Li+.
Gambar lithium iron phosphate (LiFePO4)
Namun demikian, LiFePO4 sulit untuk memberikan kapasitas spesifik teoretis penuh karena konduktivitas elektronik yang rendah dan koefisien difusi ion Li rendah. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi kekurangan di atas. Secara umum, konduktivitas elektronik dapat ditingkatkan dengan cara :
Penulis:
Agnolla Emely dan Della Intania P.N
Mahasiswi Teknik Kimia Universitas Sebelas Maret
Artikel dikirimkan pada tanggal 17 Juni 2019, dipublikasikan dengan pengeditan struktur artikel.
Pengantar USB Debugging Tutorial berikut akan menjelaskan bagaimana cara menjalankan project yang kita buat di…
Produksi Minyak Sawit/CPO Indonesia Minyak sawit merupakan salah satu komoditi ekspor unggulan Indonesia, hal tersebut…
Alat/Mesin Pengayakan Pada Industri Kimia Screening atau proses pemisahan adalah proses melewatkan material umpan pada suatu…
Apa itu fuel cell? Semakin terbatasnya bahan bakar fosil dan meningkatnya tuntutan lingkungan menjadi lebih…
Pengantar Berdasarkan catatan CisSecurity, aktivitas malware terus meningkat hingga 61% pada tahun 2019. Artinya bahwa…
Latar Belakang Setiap desa memiliki potensi bebeda-beda. Desa Binoh memiliki produksi jagung melimpah, akan tetapi…